Masuk

Search

Travel Tips

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Lifestyle

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Hotel Review

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Selamat Datang di Website Resmi Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Sinergi Edisi 4: BLAM Perkuat Pemahaman Ekoteologi Berbasis Aksi

  • Like:
  • 0
  • Share:
image
Sejumlah pegawai BLAM melakukan diskusi dengan Kepala BDK Denpasar, Saprillah di ruang Mini Meeting BLAM, Rabu (5/8/2026)

Makassar (BLA Makassar) --- Balai Litbang Agama (BLA) Makassar memperkuat pemahaman tentang ekoteologi sebagai pendekatan yang tidak hanya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mendorong aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Gagasan tersebut menjadi fokus diskusi bersama Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar, Saprillah, yang berlangsung di Ruang Mini Meeting BLA Makassar, Rabu (5/8/2026). Selain membahas penguatan ekoteologi, forum ini juga mengulas strategi pembangunan Zona Integritas (ZI) yang berorientasi pada dampak nyata bagi publik.

Dalam pemaparannya, Saprillah menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan Zona Integritas tidak hanya ditentukan oleh tata kelola birokrasi yang baik, tetapi juga oleh manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, inovasi menjadi salah satu kunci untuk menjawab indikator tersebut, termasuk melalui pengembangan program ekoteologi yang dapat diukur hasilnya.

"Kalau di TPN tidak hanya cara tentang pengelolaan saja tetapi dampak langsung ke masyarakatnya," ujar Saprillah.

Saprillah kemudian membagikan pengalaman BDK Denpasar dalam mengembangkan Laboratorium Ekoteologi sebagai ruang pembelajaran yang terhubung dengan masyarakat. Program tersebut memanfaatkan pengelolaan sampah organik menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk menanam sayuran. Warga yang menyetorkan sampah organik memperoleh manfaat langsung berupa hasil panen sayuran, sehingga sampah dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

"Kita kasih konsep bahwa sampah itu punya harga, harganya terong," ungkapnya.

Ia menilai konsep tersebut dapat dikembangkan di berbagai daerah dengan menyesuaikan kondisi setempat tanpa harus meniru bentuk fisiknya. Yang terpenting adalah menghadirkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan sehingga tercipta kolaborasi yang sekaligus mendukung program pemerintah daerah dan memperkuat pembangunan Zona Integritas melalui dampak yang nyata.

Menurut Saprillah, pembeda utama antara gerakan ekologi dan ekoteologi terletak pada nilai keagamaan yang menyertai setiap aksi pelestarian lingkungan. Ekologi berfokus pada penyelesaian persoalan lingkungan, sedangkan ekoteologi mengajak masyarakat memaknai setiap tindakan menjaga alam sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan seperti menanam pohon, mengelola sampah, dan menjaga kebersihan tidak berhenti sebagai aktivitas sosial, tetapi juga menjadi wujud tanggung jawab spiritual.

"Kalau hanya sekedar semangat ngumpul sampah itu oke tapi hanya berhenti di ekologi atau tanam pohon itu ekologi. Tapi memaknai penanaman pohon sebagai bagian dari ibadah itu ekoteologi," jelasnya.

Melalui diskusi ini, pegawai BLAM memperoleh gambaran tentang pentingnya menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat tata kelola kelembagaan, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat. Pendekatan ekoteologi diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan berbagai program yang mengintegrasikan nilai keagamaan dengan aksi pelestarian lingkungan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat luas.

Editor: Nurul Fadillah
Fotografer: Istimewa
Leave a Comment